Jamaah Plus Keluhkan Fasilitas Pondokan
DI Makkah, berbagai komplain terus bergulir dari kalangan jamaah Indonesia. Setelah jamaah reguler, kali ini protes dilontarkan oleh jamaah haji plus. Mereka mengeluhkan jauhnya lokasi penginapan yang menghalangi keinginan untuk salat lima waktu di Masjidilharam. Seperti dilaporkan wartawan JPNN di Makkah Abdul Muis, banyak jamaah plus yang menempati penginapan di luar ring satu. Bahkan, fasilitas hotelnya tidak lebih baik daripada jamaah reguler.
"Kondisinya hampir mirip losmen bertingkat,'' kata Rochman, jamaah asal Lombok. Hal senada diungkapkan M. Saiful, jamaah plus asal Madura, yang menempati penginapan di Tan'im.
Penginapan itu berjarak sekitar 10 kilometer dari Masjidilharam.
Untuk mencapai Masjidilharam, jamaah plus memperoleh jatah bus yang disewa travel secara paket. Namun, bus tersebut hanya datang pada jam-jam tertentu. Misalnya, travel yang diikuti koran ini hanya menyediakan angkutan ke Masjidilharam sekali antarjemput. Waktunya sesudah salat Zuhur dan pulang setelah Isya. "Kami hanya bisa salat jamaah Asar, Magrib, dan Isya," jelas Totok, jamaah asal Surabaya.
Lain halnya dengan Rr Erna. Wanita asal Solo itu mengaku malu ketika dikunjungi adik iparnya yang kebetulan satu sektor di kawasan Aziziah Samalia. "Kamu ikut haji plus, tapi tidurnya kok di pucuk gunung?" ledek Iwan yang membuat Erna tersipu. "Ini namanya haji plus naik gunung, he he he," sahut Erna. Erna pun lantas minta suaminya, Yuni Eko, protes kepada travel yang mereka ikuti.
Iwan memang pantas mengatakan demikian. Sebab, dia yang naik haji reguler tinggal tidak jauh beda dengan yang plus. Iwan bersama kloter 39 dan 40 menempati maktab di bagian bawah bukit kawasan Aziziah Samalia. Fasilitas maktabnya jauh lebih representatif daripada hotel tempat tinggal Erna. "Hotel kami namanya saja tidak ada. Katanya sih Qosor Ain dan setaraf bintang empat, tapi sopir taksi aja tak tahu," timpal Ali Sofa, jamaah asal Surabaya.
Bupati Gresik KH Robbach Maksum yang satu kloter dengan koran ini juga mengeluhkan fasilitas haji plus yang dia ikuti kali ini. Sebagai pelayan tamu Allah, menurut dia, pengelola haji plus harus konsekuen dalam menjual jasanya. "Jangan manis di saat menawarkan barangnya, tapi kenyataannya banyak jamaah yang komplain," ucapnya saat sarapan pagi di hotel. "Mereka-mereka naik haji plus ini kan ingin bisa salat lima waktu di Masjidilharam. Tapi, kenyataannya kok minus he he he," imbuhnya.
Yang lebih menyedihkan, Robbach yang berangkat bersama istri harus "angkat koper", pindah ke kamar lain. Bahkan, jamaah yang seatap dengannya harus menyeret kopernya sendiri. "Sudah harus pindah ke tower tujuh bawah bukit , ee malah kamarnya gak ada air lagi. Masak ini fasilitas haji plus," ujarnya sembari nyengir.
Para jamaah haji plus itu sebenarnya sudah bisa menerima fasilitas yang diberikan. Sebab, manajemen travel ini jauh hari sudah memberikan gambar videonya hotel tersebut. Namun, kenyataannya, fasilitas hotelnya tidak sesuai dengan harapan. Misalnya, kamar yang terlalu kecil harus diisi empat jamaah sesama jenis kelamin. "Kamar saya malah gak ada pintunya," ujar Aris, penghuni blok 521 Hotel Qosor Ain.
Kondisi kamar mandinya tidak sama. Ada yang ngecembeng dan airnya tidak keluar. Juga di setiap kamar tidak selalu ada kamar mandinya. Padahal, dalam satu blok terisi empat kamar yang berarti berisi 16 orang. "Saya sendiri harus ngalah, mandi pakai pancurannya cebokan," ujar Abdul, penghuni blok 522.
Ruang salat juga tidak ada sama sekali. Padahal, travel ini punya program kultum setiap menjelang salat Duha dan Tahajud. Akibatnya, acara religius itu dilakukan di tempat ala kadarnya. Para jamaah harus berimpitan di atas lima permadani warna merah di lobi hotel yang sempit itu. Akibat lainnya, jamaah yang tidak ikut salat Duha dan Tahajud tidak bisa keluar dari hotel. Terutama jamaah yang hendak dan baru balik dari Masjidilharam sendirian. "Saya sampai ngantuk nunggu orang habis salat tahajud," keluh Flodesa, jamaah asal Mojokerto, sepulang dari Masjidilharam.
Begitu pula saat salat Subuh berjamaah di hotel, tidak seluruh jamaah bisa ikut. Sebagian di antara 208 jamaah yang mengikuti travel itu salat berjamaah di luar, masjid terdekat, atau di kamar masing-masing. Salat Subuh dan Duhur memang dijadwalkan dilaksanakan di hotel. Salat tiga waktu lainnya Asar, Magrib, dan Isya dilakukan di Masjidilharam.
Sampai kemarin, manajemen travel juga belum memberikan penegasan tentang keinginan jamaah yang hendak ikut salat Jumat berjamaah di Masjidilharam menjelang wukuf.
Setelah salat Duha kemarin, salah seorang direktur tavel yang dikomplain jamaahnya, Amaluddin, langsung konsolidasi. Komplain jamaah yang sudah terembus sejak menempati hotel pada 30 November malam itu baru direspons kemarin. Semua unek-unek telah disampaikan dalam pertemuan gelar karpet di lobi hotel. Tujuannya, menjelang wukuf, persoalan nonteknis tersebut jangan sampai mengganggu ibadah mereka.
Bahkan, dalam temu dialog tersebut, ada jamaah yang menuntut agar ongkos kenaikan haji plus senilai 850 dolar AS per orang dikembalikan. Sebab, kenaikan harga itu tidak memberikan jaminan jamaah menginap di ring satu kawasan Masjidilharam.
"Kami tidak akan mengembalikan uang kenaikan itu," tegas Amaluddin. Sebab, uang kenaikan itu sudah dibelanjakan sesuai dengan kesepakatan awal. Kenaikan tersebut digunakan untuk menambal kenaikan harga tiket pesawat dan sewa hotel selama di Tanah Suci. Hotel di Aziziah yang akan ditempati selama 13 hari itu, menurut dia, juga bertaraf bintang empat.
"Demi Allah, kami tidak membohongi jamaah," tegas Amaluddin. Menurut dia, manajemen sudah menjalankan fungsinya sebagai pelayan tamu Allah. Pihaknya juga tidak melanggar aturan Depag tentang jauhnya hotel yang ditempati jamaah sekarang ini. "Di sini (Hotel Qosor Ain) kan hanya transit. Seusai Arbain nanti, kita tinggal di Tower Zamzam (hotel paling mewah di Masjidilharam, Red)," tegasnya.
Meski demikian, penjelasan Amaluddin tersebut tetap belum memuaskan jamaah. "Kalau Qosor Ain kelasnya setaraf hotel bintang empat, kenapa tidak ada room boy yang membersihkan kamar setiap hari," celetuk Ny Titik asal Ngawi. "Kami juga sulit mau cuci pakaian. Pelayanan laundry aja tidak ada," timpal Ratrih, jamaah asal Malang. (agm/jpnn)
Ingin bergabung di zamanku? Kirim email kosong ke: zamanku-subscribe@yahoogroups.com
Klik: http://zamanku.blogspot.com
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
__,_._,___




